“Empat Konsumen Kelas Menengah Muslim: Kamu Kelas yang Mana?”

“Empat Konsumen Kelas Menengah Muslim: Kamu Kelas yang Mana?”

Indonesia dan muslim adalah dua kata yang kerap melekat. Wajar, Indonesia merupakan negara terbesar yang penduduk muslimnya terbanyak di dunia. Mengalahkan negara Islam seperti Arab dan Mesir. Sekitar 87% penduduk Indonesia memilih Islam sebagai agama yang dipeluk.

Melihat fakta ini, sudah semestinya para pebisnis bersaing meraih profit sebanyak-banyaknya. Namun, tak sembarang produk akan dipilih oleh penduduk muslim karena Islam mengenalkan halal dan haram serta baik untuk kebutuhan para pemeluknya.

Untuk kalian pera pejuang bisnis atau yang sedang merintis karier sebagai orang pebisnis, sudah semestiinya kalian membaca buku Marketing to The Middle Class Muslim karya Yuswohady dkk.  Kalian akan dapat mengenal pasar muslim menengah Indonesia serta produk-produk yang tepat. Dengan mempertimbangkan banyak aspek, Yuswohady membagi konsumen muslim Indonesia menjadi empat kelas menengah muslim. Apa aja itu kelas menengah tersebut? Chekidotz

Apathist: “Emang Gue Pikirin”

Harga semurah–murahnya, barang sebanyak-banyaknya. Tidak peduli manfaat barang yang dibeli. Persoalan halal haram? Emang gue pikiran. Begitulah kurang lebih prinsip yang diyakini oleh Si Apatis.

Pengetahuan dan keadaan rendah serta mental miskin merupakan penyebab mengapa kelas ini ada. Gak peduli nilai-nilai Islam apa yang didapat, yang terpenting adalah mereka dapat banyak dari harga yang paling murah.

Eits, gak hanya itu. Untuk urusan berbagi dengan yang lain, so pasti kelas ini yang paling berat untuk berbagi karena gak ada untungnya bagi mereka. Termasuk urusan investasi, lebih baik ditabung daripada sewaktu-waktu merugi.

Kurasika yakin, kamu pasti punya teman macam ini dan menghadapinya, kamu harus sabar. Beri penjelasan sesederhana mungkin dan beri bukti konkret kalau membeli produk gak semata-mata murah.

Rasionalis: “Gue Dapet Apa?”

Berlanjut ke kelas lainnya. Kelas kedua adalah Si Rasioanalis. Orang-orang yang terkumpul menjadi rasionalis berpikir “Gue Dapat Apa?” dari produk. Jadi gak semata-mata murah, Si Rasionalis masih memikirkan manfaat dari produk yang dibeli. Penyebabnya adalah pengetahuan umum mereka yang tinggi terhadap produk yang dingginkan.

Eits, tunggu dulu, ternyata mereka punya kesamaan dengan Si Apatis. Yuph, pengetahuan dan ketaatan terhadap nilai Islam yang rendah. Mereka paham bahwa produk syariah itu penting, tetapi bukan itu yang terpinting. Produk yang memberikan keuntungan lebih besar merupakan alasan nomor satu kenapa Si Rasionalis memilih sebuah produk.

Gak berhenti sampai di sini, Si Rasionalis sangat mementing citra di hadapan orang lain, misalnya kaum perempuan. Beberapa perempuan memilih berjilbab bukan karena murni ketaatan terhadap kewajiban muslimah, melainkan agar lebih diterima di lingkungan yang mereka ikut kemudian meraup keuntungan dari lingkungan tersebut. Pun perihal donasi, semakin besar donasi, semakin besar pula kedudukan di mata orang lain.

Melihat Si Rasionalis, pasti kamu gregetan dan langsung bilang kalau yang mereka lakukan salah. Eh sabar dulu, kamu harus pelan-pelan menghadapi sosok ini. Si Rasionalis gak bisa mau disalahkan begitu saja. Sampaikan informasi dan fakta dengan jelas karena sesungguhnya sosok rasionalis sudah paham produk syariah, cuma gak menyeluruh.

Konformis “Pokoknya Harus Islam”

Pernah dengar seorang teman ngomong bank itu riba atau men-judge sebuah restoran haram 100% karena tidak terdapat label MUI, eh pas kita minta penjelasan mengenai produk-produk tersebut dia susah jelasin. Mungkin temanmu termasuk sosok konformis.

Pokoknya harus Islam merupakan hal yang paling gampang dilihat dari Si Konformis. Orang-orang konformis merupakan sosok tertutup dibandingkan tiga kelas lainnya. Mereka sangat khawatir dan berhati-hati dalam menggunakan sebuah produk. Jadi, mereka akan menggunakan produk jika “berlabel syariah” atau berlogo halal.

Mirip dengan kelas rasionalis, kamu pasti kesal punya teman yang kaya gini. Belum apa-apa langsung nge-judge itu haram karena gak syariah dan gak ada logo halal. So, kamu harus pintar menyakinkan dia kalau produkmu halal dan punya banyak keuntungan meskipun gak ada kata syariah dan logo halal.

Universalis: “Islam itu Lebih Penting”

Dari namanya saja sudah jelas kalau sosok universalis merupakan sosok dambaan setiap muslim. Gak cuma pintar dan taat agama, tapi juga pengetahuan luas. Jadi gak langsung bilang haram karena gak ada label syariah, gak mementingkan citra, dan sudah pasti sosok ini peduli terhadap orang lain.

Memang mereka menilai bahwa “Islam itu lebih penting”, tapi juga mempertimbangkan produk tanpa syariah dengan detail dan memastikan bahwa produk tersebut memenuhi kaidah syariah. Sosok ini tidak datang begitu saja, mereka lahir karena dari proses belajar serta terinspirasi dari tokoh-tokoh teladan yang memperhatikan nilai keislaman dan manfaat sebuah produk.

Menghadapi sosok universalist kamu harus punya wawasan dan nilai keislaman yang tinggi. Kamu juga harus pandai mengaitkan antara nilai Islam dengan fakta dan produk yang kamu tawarkan.

Masih dari buku yang sama, besaran empat sosok ini tidaklah sama. Presentasi rasionalis 29%, apatis 27%, konformis 21%, dan sebanyak 23% universalis. Dari penjelasan tersebut, kamu kelas yang mana?

Baca yang Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Cancel reply